Sisi yang Dirindukan
![]() |
| Sumber: google.com |
Setiap pantai memiliki
pesisir.Lebar pesisir itu tergantung dengan jenis pantai setempat.Begitu pula
pesisir-pesisir pantai yang ada di Bali. Tidak semua pesisir memiliki luas yang
sama.
Berbicara tentang pesisir
pantai di Bali, sebenarnya pesisir pantai Bali bisa dikatakan gudang
emas.Bagaimana tidak?Pesisir bali secara tidak langsung memberikan kesempatan
para warga sekitar untuk membuka usaha. Contohnya seperti di pantai
Sanur.Pesisir pantai Sanur dimanfaatkan para warga untuk berjualan makanan,
seperti jagung bakar, lumpia, sate, dan lain-lain.Tak melulu soal makanan, di
pesisir pantai Sanur juga terlihat banyak pedagang pelampung dengan berbagai
variasinya.
Para pedagang kecil hanya
bermodal tenda terpal atau payung sebagai ‘petunjuk’ dari stand sederhana yang
mereka dirikan. Itupun juga bergantung nasib.Apa ada yang melihat mereka di
antara sekian banyak pedagang. Apa cuaca akan selalu berada di pihak mereka.
Apa pasang surut air laut mau mengasihi mereka. Para pedagang pesisir sangat
bergantung pada banyak hal.
Selain pedagang kecil,
pesisir pantai juga dimanfaatkan sebagai tempat pembangunan restoran, hotel,
dan lainnya yang ditujukan khususnya kepada wisatawan asing dengan harga
“bule”.Deretan restoran, café, dan hotel seakan menghiasi pesisir pantai.Dan
makin hari seakan makin menyesakkan.
Beberapa wisatawan juga
terkadang lebih memilih memakan makanan di restoran-restoran yang ada dibanding
makan makanan dari para pedagang pesisir.Faktor kehigienisan mungkin menjadi
salah satu alasannya. Atau yang lain, selera wisatawan tidak sesuai dengan
makanan yang disuguhkan para pedagang kecil. Selain itu, kebutuhan wisatawan
akan tempat istirahat yang nyaman tidak dapat diberikan para pedagang kecil.
Maka dari itu pendirian hotel-hotel mulai merajalela.Pesisir pantai lebih
banyak digunakan sebagai lahan pembangunan bagi orang-orang bermodal.Pembangunan
ini makin menyempitkan pesisir pantai, utamanya pantai Sanur.
Belum lagi kini pesisir
pantai mulai terkikis sedkit demi sedikit.Banyak sekali pesisir pantai yang
mulai “menyempit” akibat “menyeruaknya” air laut.Tidak hanya di pantai Sanur,
tapi juga di pantai lain di sekitar pulau Bali. Misalnya saja pantai Padang
Galak.Pantai Padang galak yang terletak di daerah Kesiman, kecamatan Denpasar
Timur ini memiliki “wajah” yang berbeda dari tahun ke tahun.
Jika kita melihat “wajah”
pesisir pantai Padang Galak lima tahun lalu, pantai Padang Galak masih memiliki
pesisir yang cukup lebar. Bahkan dapat digunakan untuk bermain layangan bagi
anak-anak, meski dengan ombaknya yang terbilang cukup kuat.Pesisir yang masih
cukup luas itu masih bisa dikatakan area yang aman untuk digunakan beraktivitas
selama air laut tidak pasang.Namun kini, pesisir itu seakan sudah tertelan air
laut.Hanya tersisa pemecah ombak yang menjadi “pembatas” antara air laut dengan
daratan.Pasir hitam pantai Padang Galak seakan bersembunyi di bawah gelombang
air laut.
Pesisir pantai yang makin
terkikis juga menyulitkan para petani garam untuk memproduksi garam.Dibutuhkan
lahan untuk dapat membuat garam, namun lahan yang tersedia makin
menyempit.Seperti para petani di desa Kusamba.Padahal desa Kusamba terkenal
dengan hasil garam yang berkualitas.Di samping itu juga, kegiatan pembuatan
garam ini secara tidak langsung menjadi ‘tontonan’ objek wisata bagi wisatawan
asing.Namun semenjak abrasi yang makin parah, tak sedikit dari mereka ‘banting
setir’.Segelintir orang yang masih bertahan untuk tetap ‘bertani garam’.
Tidak hanya itu.Pengikisan
bibir dan pesisir pantai juga berdampak serta berpengaruh pada prosesi upacara
keagamaan Hindu di Bali.Contohnya seperti upacara melasti.Upacara melasti
adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat
Hindu di Bali.Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam
menggunakan air kehidupan.Upacara Melasti biasanya dilaksanakan di pinggir
pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu
dan membuangnya ke laut.Upacara melasti ini membutuhkan pesisir pantai yang
cukup lebar untuk menampung umat yang bersembahyang ditambah lagi tempat untuk
menaruh sesaji.Beberapa pesisir pantai sudah tidak cukup lagi digunakan untuk
melaksanakan upacara melasti akibat abrasi.
Namun meski permasalahan
di pesisir pantai Bali sudah banyak mencuat, masih belum ada penanganan serius
dari pemerintah.Penanganan masih belum dikerahkan maksimal.Pencegahan pun masih
terasa kurang.Pemberian solusi terhadap warga sekitar yang kini mulai
kehilangan pekerjaan, tempat tinggal masih diharapkan.Masyarakat juga
sepertinya seakan kurang peduli dan tidak peka terhadap perbedaan yang terjadi
di wajah pesisir pantai-pantai di Bali. Masih cuek dan kurang melakukan action
terhadap apa yang terjadi pada pesisir pantai di Bali. Padahal pesisir pantai
merupakan cikal bakalnya kebudayaan yang ada di Bali ini.Mulai dari pesisir,
perkembangan masyarakat Bali disebarkan.Hingga menjadi kebudayaan Bali yang
sekarang.Namun kini pesisir pantai Bali seakan menjadi hal yang dirindukan.

Good cok😎
BalasHapus